Perspektif Manajemen Laba Dari Aspek Strategi

289
Oleh: Annisaa Rahman
Metro Padang
– Manajemen laba telah mendapatkan perhatian besar oleh literatur dan publikasi akuntansi sejak berbagai skandal akuntansi (Enron, Worldcom, dan Parmalat) terjadi dan berbagai regulasi ditetapkan (seperti Sarbanes-Oxley).
Manajemen laba telah menjadi perhatian yang panjang bagi analis, regulator, peneliti, dan profesional investasi lainnya.
Berdasarkan telaah literatur terdahulu, tidak ada konsensus tunggal dari akademisi, praktisi, atau dewan standar dalam mendefinisikan manajemen laba sehingga berkembang beragam pengertian dan cakupan, baik yang bersifat efisien maupun oportunis.
Perkembangan ini memunculkan berbagai istilah yang digunakan untuk mengacu manajemen laba seperti creative accounting practices, income smoothing, income manipulation, aggressive accounting, financial numbers game, myopic management, dan financial shenanigans yang sejalan dengan munculnya keberagaman ukuran dan motivasi yang mendasari terjadinya manajemen laba.
Hettihewa dan Wright (2010) dengan pendekatan deskriptif telah membahas bagaimana evolusi manajemen laba perusahaan dalam beberapa dekade dengan mengidentifikasi perkembangan manajemen laba perusahaan melalui penelusuran isu-isu dominan, pemikiran, pandangan, motivasi dan aktivitas manajemen laba
perusahaan.  Meskipun bentuk dan pengertian dari manajemen laba perusahaan telah berkembang bahkan sampai menjadi sangat canggih, namun secara substansi manajemen laba perusahaan akan selalu menyisakan dua area abu-abu antara kejujuran dan kebohongan.
Manajemen laba perusahaan jarang melibatkan penipuan langsung, namun menurut  Hettihewa dan Wright (2010) hal tersebut merupakan pelanggaran kepercayaan yang mendasar karena dapat menyebabkan kesalahan informasi bagi pengguna laporan keuangan.
Merujuk Watts dan Zimmerman (1986), manajemen laba terjadi pada saat manajer menggunakan diskresinya atas angka- angka akuntansi dalam batasan yang diperbolehkan standar, dimana melalui diskresi ini dapat mengakibatkan maksimalisasi nilai perusahaan (efisien) atau sebaliknya juga dapat bersifat oportunistik.
Sejumlah studi menyatakan bahwa manajemen laba mungkin bermanfaat karena berpotensi meningkatkan nilai informasi laba. Manajer  dapat melakukan manajemen laba yang baik (Scott, 2015) sebagai mekanisme untuk menyampaikan informasi privat kepada investor tentang prospek perusahaan    di masa mendatang.
Dengan demikian, tindakan manajemen laba seperti ini mungkin tidak akan berbahaya bagi perusahaan.
Namun, meskipun telah terdapat bukti empiris bahwa manajemen laba bisa bersifat baik atau efisien, namun sebagian besar literatur berfokus pada insentif oportunistik. Dimana manajer yang terlibat dalam prilaku manajemen laba buruk   ini berusaha menyesatkan potensial investor demi mencapai keuntungan pribadi.
Opini ini menyajikan pendapat bahwa manajemen laba dari aktivitas operasi riil (sebagai bagian dari manajemen laba), dapat dilihat sebagai tindakan efesien perusahaan pada saat diseleraskan dengan pilihan strategi bisnis perusahaan.
Opini ini didasarkan pada perspektif manajemen strategi. Manajemen laba riil yang bersumber dari aktivitas- aktivitas percepatan penjualan dengan pemberian diskon dan kredit lunak, pengurangan biaya diskresioner, dan fleksibilitas produksi dalam skala ekonomi yang tinggi diperluas pemahamannya tidak hanya mengacu pada penyimpangan, namun dari perspektif manajemen strategi terlihat seperti bagian dari implementasi strategi fungsional perusahaan yang menekankan pada prioritas biaya (Rhee dan Mehra, 2006; Oltra dan Flor, 2010), dan atau strategi marketing minimizing (Slater dan Olson, 2001), dan atau strategi fleksibilitas produksi (Hutchison dan Das, 2007).
 Berdasarkan analogi strategi fungsional inilah, kami berpendapat bahwa manajemen laba riil, mungkin saja tidak selalu merupakan tindakan yang oportunistik manajemen. (MP)
ads
BAGIKAN

LEAVE A REPLY