Pariaman Gelar Festival Limau Puruik Art Festival 2019

1039

Metro Padang.com – PADANG PARIAMAN – Kehadiran Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah dalam acara Limau Puruik Art Festival 2019 memberi energi tersendiri bagi peserta dan pengunjung. Mahyeldi yang disertai rombongan dari Malaysia disambut hangat oleh Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur dan masyarakat diiringi gegap gempita gendang tasa dan tarian pasambahan.

Perhelatan seni khas lokal Minangkabau itu berlangsung di Pasar Limau Puruik Art Festival 2019, Kabupaten Padang Pariaman, Ahad (18/08/2019) malam.

Mahyeldi menyebut Limau Puruik Art Festival sebuah gagasan bernuasa terhadap memelihara kekayaan seni budaya yang dimiliki Sumatera Barat. Ajang ini juga menunjukkan banyak potensi seni budaya Sumatera Barat yang menarik dan unik.

“Banyak seni budaya yang kita miliki yang mestinya dapat kita pelihara melalui dan terus hidupkan melalui ajang seperti inj,” ujar Mahyeldi.

Lebih lanjut dikatakan, seni budaya khususnya musik yang ditampilkan dalam Limau Puruik Art Festival, nanti juga bisa diangkat melalui Padang Indian Ocean Music Festival (PIOMFes). Festival diikuti negara-negara anggota Indian Ocean Rim Assosiation (IORA) tersebut akan berlangsung Oktober 2019 di Padang.

“Oktober nanti di Padang juga akan berlangsung PIOMFes, musik di Limau Puruik Art Festival bisa ditampilkan untuk meramaikannya,” kata Mahyeldi didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Arfian.

Sambutan Mahyeldi dalam acara itu banyak mendapatkan aplaus terutama ketika menyampaikan gagasan-gagasan pariwisata Sumatera Barat. Seperti mengadakan event-event serupa Limau Puruik art Festival yang berskala lebih besar.

Pada ajang itu, Kota Padang menampilkan permainan tradisi anak nagari yaitu Sipak Rago. Permainan sipak rago menggunakan bola dari rotan dimainkan tujuh sampai sembilan orang. Biasanya diiringi musik talempong.

Utusan Kota Padang, tim Sipak Rago Rotan Bajalin tampil prima dalam kesempatan ini. Meskipun mendapat giliran tampil menjelang tengah malam, namun tim binaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Padang itu mendapat aplaus meriah dari penonton yang memadati selasar Pasar Limau Puruik.

Pembina Tim Sipak Rago Rotan Bajalin, Khalil Chaniago mengatakan, penampilan timnya kali ini lebih prima. Hal itu berkat latihan yang rutin dilakukan di samping memang mencintai permainan tradisi itu sendiri.

“Penampilan prima tim kami karena memang rutin memainkannya, selain itu dimainkan dari hati,” kata Khalil.

Selain sipak rago dari Kota Padang, ada kesenian khas dari Sawahlunto, dari Padang Panjang dan Padang Pariaman sendiri serta kesenian khas daerah lainnya yang turut meramaikan Limau Puruik Art Festival.

Sementara itu, Wabup Suhatri Bur merasa bangga dengan adanya kegiatan ini. Festival seni di Limau Puruik mengangkat pula nama nagari sekaligus menumbuhkan rasa cinta pada seni dan tradisi sendiri.

Menurutnya, ramainya warga yang menjubeli lokasi festival untuk menyaksikan pertunjukkan menandakan tingginya antusias warga. Hal itu berdampak pada pergerakan ekonomi dan pendapatan warga.

“Keramaian seperti ini memberi dampak terhadap ekonomi masyarakat,” kata dia.

Kegiatan ini diprakarsai budayawan dan akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang Susandra. Pakar seni budaya itu merupakan putra daerah asal Limau Puruik yang merasa bertanggungjawab menghidupkan kesenian lokal yang ada.

“Kami terpanggil dan bertanggungjawab untuk menghidupkan kesenian tradisi yang ada. Ini meruapakan kekayaan tak benda yang mesti dipelihara agar lestari sampai generasi penerus nanti,” ujar Susandra.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY