Model PbPL : Solusi meningkatkan keterampilan berpikir kritis Siswa

555

Metro Pasdang.com – “Pendidikan Bukanlah Proses Mengisi Wadah yang Kosong. Pendidikan adalah Proses Menyalakan Api Pikiran”.
-Bill Yeats-
Manusia sebagai makhluk terbaik memiliki berbagai potensi untuk tumbuh dan berkembang menuju kepada kesempurnaan. Potensi tersebut dikembangkan melalui pendidikan. Pendidikan adalah proses rekonstruksi, berpikir aktif dan inovatif. Pendidikan yang berkualitas terwujud melalui suasana belajar dan proses pembelajaran yang berkualitas pula. Tantangan pembelajaran terbesar saat ini adalah pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa. Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan di abad 21.


Berpikir kritis merupakan topik yang penting dan vital dalam pendidikan, maka sejatinya pendidikan merupakan wahana untuk melatih keterampilan berpikir kritis siswa. Para pakar dan praktisi pendidikan diharapkan terlibat secara aktif dalam merencanakan dan menggunakan strategi pembelajaran yang mampu untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Berpikir kritis dimaksudkan sebagai berpikir logis dalam pencarian pengetahuan yang relevan dan reliabel tentang realita. Seseorang yang berpikir secara kritis mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, mengumpulkan informasi yang relevan, bertindak secara efisien dan kreatif berdasarkan informasi, dapat mengemukakan argumen yang logis berdasarkan informasi, dan dapat mengambil kesimpulan yang dapat dipercaya.
Dalam kenyataannya, suasana belajar dan proses pembelajaran khususnya pada bidang sosiologi saat ini belum mendorong sikap dan kemampuan berpikir kritis siswa. Pembelajaran sosiologi masih didominasi oleh kegiatan ceramah dan kondisi ini menyebabkan siswa pasif, kurang menunjukkan aktivitas dan kreativitas.

Mata pelajaran sosiologi dipandang oleh sejumlah siswa sebagai mata pelajaran yang membosankan dan kurang diminati. Di samping itu, hasil penelitian lain menemukan siswa kurang diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan belum terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
Pendidikan yang terlalu bertumpu pada guru telah mempersempit ruang kebebasan berpikir bagi siswa. Beberapa hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pembelajaran yang didominasi oleh guru kurang memberi kesempatan bagi siswa untuk berkembang secara mandiri dan mampu mendorong proses berpikir. Persoalan tersebut perlu disikapi secara serius dengan menciptakan pembelajaran yang inovatif, keratif dan menyenangkan. Pembelajaran yang inovatif tentunya ditandai dengan pemilihan strategi atau model pembelajaran yang bervariasi, tidak monoton.


Untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam proses pembelajaran perlu dilakukan inovasi baik itu dengan menggunakan pendekatan, strategi atau model pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kesuksesan dalam proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang tepat dan efektif.
Proses berpikir kritis tidak hanya terbentuk dari kapasitas individual siswa tetapi juga oleh lingkungan yang kondusif, termasuk sekolah dan lingkungan sosial. Para ahli menyebutkan bahwa berpikir kritis erat kaitannya dengan metode pembelajaran. Proses pembelajaran student centre belum terlaksana secara maksimal sehingga belum efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Salah satu model pembelajaran yang bisa membantu siswa agar mampu berpikir secara kritis adalah pembelajaran berbasis masalah atau lebih populer dan dikenal sebagai model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Model ini dapat membentuk peserta didik mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah.
Para ahli menyebutkan bahwa metode pembelajaran selama ini yang bertumpu pada guru (teacher centre) seyogyanya diubah menjadi pembelajaran yang bertumpu pada keaktifan siswa (student centre). Studi Cindy & Hmelo-Silver menunjukkan bahwa PBL dirancang untuk membantu siswa; (1) membangun basis pengetahuan yang luas dan fleksibel, (2) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang efektif, (3) mengembangkan keterampilan belajar mandiri, berfikir kritis dan terarah seumur hidup, (4) menjadi kolaborator yang efektif; dan (5) menjadi termotivasi secara intrinsik untuk belajar.
Pembelajaran berbasis masalah juga dapat diterapkan pada semua jenis subjek dan setiap guru dapat memulai proses pembelajaran dengan mengorientasikan pada masalah. Salah satu pembelajaran yang dapat diintegrasikan dengan pembelajaran berbasis masalah adalah sosiologi, dimana dalam silabus pembelajaran banyak mengangkat fenomena dan permasalahan yang sering ditemui peserta didik dalam kehidupan. Selain dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa pada pembelajaran sosiologi, pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan komunikasi siswa. Namun, perubahan pola konvensional menuju pembelajaran berbasis masalah menyulitkan bagi sebagian siswa yang belum terbiasa dengan tuntutan dalam pembelajaran berbasis masalah. Kemampuan siswa yang rendah untuk menemukan solusi terhadap permasalahan yang diangkat dalam kegiatan pembelajaran ikut melemahkan rasa percaya diri siswa. Untuk mengatasi permasalahan ini, guru dapat memotivasi siswa dengan teknik menggiring “prompting” sehingga pembelajaran sesuai dengan arahan dan tujuan pembelajaran.
Prompting berarti mengarahkan atau menuntun. Dengan kata lain prompting dapat diartikan berupa pertanyaan yang diajukan untuk memberi arah kepada siswa dalam berpikir. Ada tiga bentuk pertanyaan prompting yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang lebih sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula, (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan dengan kata-kata berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan siswa, (3) memberikan review informasi terhadap pertanyaan yang dapat membantu siswa untuk mengingat atau melihat jawabannya.
Kombinasi antara pembelajaran berbasis masalah dengan teknik prompting inilah melahirkan model yang disebut model Problem based Prompting Learning (model PbPL). Beberapa kontribusi model PbPL dalam pembelajaran sosiologi adalah; (1) dapat mengaktifkan siswa dalam belajar di kelas, (2) dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, (3) dapat meminimalkan kesalahan yang dilakukan siswa dalam belajar, (4) dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa, dan (5) dapat meningkatkan sikap empati dan kerjasama siswa.

Tahapan Model Pembelajaran Problem based Prompting Learning (PbPL)
Kendala yang sering ditemui dalam penerapan pembelajaran berbasis masalah adalah kurangnya rasa percaya diri siswa dalam merumuskan hipotesis dan menemukan solusi dalam permasalahan yang diangkat dalam pembelajaran. Strategi prompting verbal dapat digunakan untuk membimbing siswa dalam merumuskan hipotesis. Oleh karenanya, dalam pelaksanaan pembelajaran dengan model PBL penting diupayakan strategi prompting (model PbPL).
Berikut disajikan tahapan pembelajaran menggunakan model pembelajaran PbBL: (1) merumuskan masalah, (2) menganalisis masalah, (3) verbal prompting, (4) merumuskan hipotesis, (5) mengumpulkan data, (6) pengujian hipotesis, (7) merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Model PbPL merupakan model pembelajaran modifikasi dari model PBL, dengan mengintegrasikan strategi prompting yang berfungsi untuk menggiring siswa menemukan solusi permasalahan. Kendala siswa yang selama ini berkembang di lapangan bahwa pembelajaran PBL belum optimal dilaksanakan karena belum mampu dan belum terbiasa siswa dalam mengikuti pola pembelajaran berbasis masalah.
Penerapan Model PbPL
Berdasarkan hasil pengujian model PbPL khususnya pada pembelajaran sosiologi yang penulis lakukan pada tiga sekolah di Kabupaten Tanah Datar disimpulkan bahwa penerapan model PbPL dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Hasil penilaian model PbPL secara lebih mendalam dilakukan melalui penilaian menyeluruh terhadap perangkat model PbPL yang dikembangkan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa model PbPL dalam pembelajaran sosiologi efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model PbPL dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar.
Menumbuhkan minat dan motivasi pada siswa dapat dilakukan dengan memberikan pengalaman-pengalaman tertentu pada siswa. Misalnya siswa berusaha menemukan jawaban atas pertasnyaan-pertanyaan prompting yang diberikan oleh guru. Pengalaman itu juga dapat mengasah sikap empati dan peduli terhadap sesama sehingga berpikir kritis yang dihasilkan adalah berpikir kritis dengan hati. Kemudian pengalaman juga diberikan lewat memberikan kesempatan untuk bercerita di muka kelas, mengajukan pertanyaan kritis, eksplorasi artikel dan gambar/ foto, nonton film, melakukan penelitian sosial sederhana, dan membuat catatan harian. Pengalaman-pengalaman yang didisain melalui model pembelajaran seperti di atas merupakan format baru yang lebih kreatif dan merangsang siswa untuk masuk dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran mata pelajaran sosiologi. Pada ranah afektif model PbPl juga bisa meningkatkan sikap empati siswa karena dalam aktifitas pembelajaran siswa berdiskusi dan saling memberikan pendapatnya terkait masalah yang sedang dipecahkan terutama katika materi terkait dengan masalah sosial seperti masalah nilai dan norma dalam masyarakat.
Permasalahan dalam pembelajaran sosiologi yang ditemukan berkaitan dengan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Model PbPL dapat menjawab permasalahan tersebut dengan menghadirkan pembelajaran yang hangat, semangat dan menyenangkan sehingga dapat membantu motivasi belajar siswa. Model PbPL sejalan dengan karakteristik dan pembelajaran yang berkembang saat ini yaitu pembelajaran yang dirancang berbasis masalah dikombinasikan dengan teknik prompting dan didesain sesuai dengan tahap perkembangan siswa di SMA.
Bagi guru atau tenaga pendidik yang ingin menerapkan model PbPL pada materi dan kelas lain perlu memperhatikan beberapa hal, di antaranya: (1) relevansi masalah yang diangkat dalam kegiatan pembelajaran, (2) kecocokkan strategi prompting yang dipilih dengan tingkatan dan usia peserta didik, (3) karakteristik materi, (4) ketersediaan sarana dan prasarana pendukung dalam kegiatan pembelajaran serta (5) alokasi waktu yang tersedia.
Artikel ini ditulis berdasarkan disertasi untuk penyelesaian S-3 pada Prodi Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Padang, dengan tim promotor Prof. Dr. Azwar Ananda, M.A dan Dr. Ahmad Kosasih, M.Ag. Tim Penguji Prof. Dr. Z. Mawardi Effendi, M.Pd. (Universitas Negeri Padang) dan Dr. Fatmariza, M.Hum. beserta penguji eksternal Prof. Dr. Sapriya, M.Ed. (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung).

BAGIKAN

LEAVE A REPLY