Metro Padang.com-Remaja adalah aset berharga yang dimiliki oleh bangsa Indonesia karena merupakan harapan serta cahaya baru agar negara ini bisa menjadi sebuah negara yang maju dan dapat bersaing serta menjadi salah satu negara yang mempengaruhi peradaban dari berbagai aspek kehidupan masyarakat secara global. Berkaitan dengan masalah remaja, saat ini yang merupakan masalah besar yang sedang dihadapi bangsa Indonesia adalah kaitannya dengan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan lainnya.

Awalnya zat-zat narkotika digunakan untuk kepentingan pengobatan, namun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya perkembangan teknologi obat-obatan maka jenis-jenis narkotika dapat diolah sedemikian rupa serta dapat pula disalahgunakan fungsinya yang bukan lagi untuk kepentingan dibidang pengobatan, bahkan sudah mengancam kelangsungan eksistansi generasi suatu bangsa.

Salah satu contoh penyalahgunaan obat adalah penggunaan obat batuk yang mengandung Dextromethorpan. Dextromethorpan merupakan obat golongan antitusif guna menekan batuk atau batuk kering yang tidak produktif. Seperti yang terjadi pada salah satu kabupaten di Sumatera Barat, Obat-obat batuk kering yang mengandung dextromethorpan ini banyak di salahgunakan oleh remaja untuk mendapatkan efek kesenangan sesaat.

Dengan mengkonsumsi dalam jumlah berlebih seperti pada kasus ini remaja mengkonsumsi lebih dari 30 sachet obat batuk kering dapat menimbulkan ngefly, bicara kacau, gangguan berjalan, gampang tersinggung, berkeringat, dan bola mata berputar-putar.

Efek ini terjadi karena dextromethorpan bekerja pada Sistem Saraf Pusat (SSP) dengan berikatan pada reseptor sigma-1 yang ada pada medula dan terlibat dalam pengaturan refleks batuk.

Selain itu, dextromethorpan juga bersifat sebagai antagonis reseptor NDMA (N-Methyl D-Aspartate) yang ada dalam system saraf pusat , sehingga pada dosis tinggi efeknya akan menyerupai Ketamin yang juga merupakan antagonis NDMA. Antagonis terhadap NDMA dapat menimbulkan efek halusinasi, hilang akal dan kehilangan produktivitas layaknya orang normal hingga menyebabkan kematian.

Sehingga banyak timbul generasi tak sehat karena dextromethorpan terus bertambah. Hal ini dikarenakan mudahnya remaja dalam mendapatkan dextromethorpan tersebut di Apotek tanpa resep dengan harga murah.

Menurut World Health Organization (WHO) dan pada 2008 Food and Drug Administration (FDA) menyatakan dekstrometorfan tidak aman dan mengkhawatirkan. Di Swedia pada tahun 2006 obat berjenis dextromethorpan telah dikategorikan sebagai narkotika. Sedangkan di negara tetangga, Singapura, obat jenis bisa didapatkan asalkan sesuai dengan resep dokter.

Dan di Negara kita Indonesia obat batuk yang mengandung bahan tunggal jenis dextromethorphan telah ditarik dari pasaran sejak tahun 2014 kemarin. Pelarangan berujung penarikan obat batuk berbahan dextromethorphan tunggal ini sudah tertuang dalam Keputusan dari pihak BPOM RI Nomor HK.04.1.35.06.13.3534 tahun 2013 tentang pembatalan izin edar obat yang mengandung dextromethorphan sediaan tunggal.

Penarikan DMP dipasaran dikarenakan dapat menimbulkan efek permanen atau jangka panjang seperti perubahan suasana hati, kepribadian dan memori. Hal ini juga dikatakan Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapeutik dan Napza Dra. A. Retno Tyas Utami, Apt., M.Epid bahwa efek dari Dextromethorpan bersifat perpamanen dan membutuhkan psikiater untuk membantu mengurangi efek dari penyalahgunaan tersebut.
Namun begitu di pasaran saat ini beredar obat batuk dextromethorpan dengan

kandungan bahan herbal di dalamnya. Karena bahan berjenis herbal maka efek yang ditimbulkan tidak akan berbahaya. Karena bersifat campuran tentu dosisnya lebih rendah dari bahan dextromethorphan tunggal, efek yang ditimbulkan juga lebih ringan tanpa mengurangi fungsi sebagai obat batuk

Written By:Aprila Haspiza Dan kawan-kawan Mahasiswa/i STIFI Perintis padang

BAGIKAN

LEAVE A REPLY