Hamka, Chatib Sulaiman, dan Sebait Syair Perpisahan

    915

    Oleh: Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati dan Penulis Sejarah Sumatera Barat, kini tinggal di Kota Padang

    Metro Padang.com – Kedekatan sosok Hamka dan Chatib Sulaiman memang jarang terungkap. Keduanya berbeda ideologi. Hamka yang cenderung Islam modernis dan politisi Masyumi, sedangkan Chatib –demikian panggilan akrabnya merupakan tokoh Partai Sosialis Sumatera Barat. Keduanya dipertemukan dalam dua peristiwa.

    Pertama, sama-sama aktif di Muhammadiyah. Chatib pernah menjadi pengajar dan kepala sekolah di Holland Indlansche School (HIS) Muhammadiyah Padang Panjang dari 1924-1930, dan Hamka masa itu sudah lama berkecimpung di Muhammadiyah Cabang Padang Panjang.

    Kedua, sosok ini kembali dipertemukan dan duduk bersama, ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I. Sejak terpilih sebagai ketua Front Pertahanan Nasional (FPN) dan Chatib mendampinginya sebagai sekretaris, hubungan keduanya telah terjalin akrab.

    Mengenal Sosok Chatib Sulaiman

    Namun, Chatib Sulaiman mungkin tidak seterkenal dan dikenal luas dalam lembaran sejarah dan blantika panggung politik. Chatib lahir tahun 1906 di Nagari Sumpur Afdeling Tanah Datar. Ia terlahir dari pasangan Haji Sulaiman dan Rahmah. Sedari kecil, ia telah dididik dalam pola budaya Minangkabau. Beranjak masa kanak-kanak, Chatib kecil sudah berangkat ke sekolah, sore hingga malam harinya belajar mengaji, silat, dan tidur di surau Pasar Mudik Padang.

    Ditengah kemapanan hidup, usaha dagang ayahnya di Pasar Gadang jatuh bangkrut. Sempat cemas tidak bisa melanjutkan pendidikan di MULO, anak kelima dari delapan bersaudara itu, dibantu seorang saudagar kaya Pasar Gadang bernama Abdullah Basa Bandaro. Inyik Basa Bandaro memang dikenal dekat dengan kaum nasionalis, Islamis, dan Komunis pada awal pergerakan di Sumatra Barat.

    Di bawah binaan Basa Bandaro, pola pemikirannya segera terbentuk. Pengalaman hidupnya selama dua puluh tiga tahun di Pasar Gadang untuk menempuh pendidikan, belajar biola, hingga mengisi suara untuk film bisu di sebuah bioskop, turut memengaruhi watak dan kepribadiannya.

    Pada tahun 1930, Chatib memutuskan hijrah ke Padang Padang Panjang–kawasan episentrum pendidikan dan pergerakan kebangsa-an. Onderafdeling Padang Panjang di awal abad ke-20, menurut Hanif (2017) telah pesat perkembangannya sebagai lokus modernisasi Islam, yang ditandai dengan berdirinya Sumatra Thawalib dan Diniyah School.

    Euforia modernisasi Islam di Padang Panjang, juga didorong modernisasi transportasi massal kereta api, yang mendorong mobi-lisasi manusia dan barang dalam jumlah besar. Disadari atau tidak, segmen-segmen peristiwa besar di awal abad ke-20 mendorong Chatib, untuk terlibat aktif di dalamnya. Sejak awal bermukim di Padang Panjang, putra Haji Sulaiman tersebut telah mengajar di HIS Muhammadiyah dan Madrasah Irsyadin Naas (milikinyik Adam BB).

    Di tengah kesibukannya sebagai guru, Chatib diminta membantu Leon Salim, untuk membangun kepanduan El-Hilaal kemudian berlanjut dengan Kepanduan Indonesia Muslim (KIM). Di sela-sela rutinitasnya, Chatib masih melahap buku-buku religius, nasionalis, sosialis, dan lainnya.

    Kecendrungan-kecendrungan di atas, merupakan fenomena umum di kalangan terpelajar, untuk mengisi hati dan pikiran mereka dengan informasi dan pengetahuan (Kahin, 1996). Terstrukturnya pola pikir dan gerak cepat Chatib di awal 1930an, diduga kuat dipengaruhi oleh bacaan-bacaan yang dilahap selama bermukim di Padang Panjang.

    Rasa nasionalisme yang menghujam di hatinya, mendorong Chatib merintis PNI-Baru Sumatera Barat pada November 1932 (Salim, 1987: 13). Hanya bertahan sebentar saja, Chatib mundur dari dunia pergerakan dan menerima tawaran Anwar Sutan Saidi–direktur Bank Nasional, untuk mengelola satu perusahaannya, yakni PT. Bumiputra. Amanah itu tidak disia-siakannya. Beberapa terobosan dilakukan untuk mendongkrak performa perusahaan, termasuk mendirikan koperasi di beberapa daerah. Jelang kejatuhan Kolonial Belanda, ia kembali tertarik masuk di dunia pergerakan.

    Chatib bersama Leon dituduh makar lewat rencana demonstrasi menuntut Indonesia merdeka di Padang Panjang, Bukittinggi, dan Tanah Datar. Pasal karet menyebarkan rasa permusuhan dan merusak rust en orde segera dikenakan. Chatib dihukum buang ke Kutacane Aceh pada tahun 1942, bersama Leon, Dt. Mandah Kayo, Murad Saad, Rajo Bujang, dan Khaidir Ghazali (Salim, 1953; 1986).

    Hampir saja jiwanya melayang. Serdadu Jepang yang mendengar teriakan Chatib cs dari balik tembok tahanan, segera membebaskan mereka. Pasca kembali ke Sumatera Barat, Jepang tertarik merekrut tenaga Chatib. Dirinya memang berada dalam pilihan dilematis. Bila ditolak, serdadu Jepang akan menghabisinya.

    Pilihan kooperatif segera dijatuhkan Chatib, demi menyelamatkan para pemuda dari romusha, sekaligus menyiapkan mereka untuk mempertahankan daerahnya. Chatib segera membentuk PNR. Ia juga diminta membentuk barisan semi militer Seinendan, yang nantinya menjelma sebagai kekuatan BPNK dan Pasukan Mobil Teras (PMT) di masa PDRI. Barisan militer Giyugun yang digagas Chatib, nantinya menjadi cikal bakal organ TKR yang ikut menjaga kelangsungan Republik Indonesia di tahun 1949 (Kahin, 1979: 54-55).

    BAGIKAN

    LEAVE A REPLY