Dinas Kesehatan Sumbar : Atasi DBD di Sumbar Perlu Banyak Sosialisasi pada Masyarakat

992

14 Maret 2019

Metro Padang.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi perhatian serius pemerintah di daerah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumbar, jumlah kasus DBD di Sumbar selama Januari 2019 mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya .Selama Januari tercatat 256 kasus DBD. Satu orang penderita meninggal dunia. Sementara pada Desember 2018 terjadi 189 kasus.


Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Merry Yuliesday mengatakan, yang paling banyak terkena DBD berada di Kota Padang, dengan jumlah penderita 56 orang. Di urutan kedua Kabupaten Pasaman Barat dengan jumlah 33 kasus.
Sementara daerah yang memiliki kasus DBD paling sedikit yakni Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kota Solok, Padang Panjang, dan Kabupaten Dharmasaraya, dengan angka mulai dari 0 (nol) hingga 4 kasus DBD.

“Ada tiga daerah tertinggi kasus DBD selama Januari kemarin. Di Kota Padang ada 58 orang yang terjangkit, Pasaman Barat ditemukan 33 kasus, dan Tanahdatar 24 kasus. Kami berharap pada Februari ini terjadi penurunan. Masyarakat bisa lebih meningkatkan kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan sekitar,” sebut Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Sumbar Merry Yuliesday pada Metro Padang.com beberapa hari yang lalu.

Sementara itu hingga 12 Februari, Kota Padang masih berada diurutan teratas ditemukannya kasus DBD yakni sebanyak 12 kasus. Disusul Kota Pariaman 9 kasus, Kabupaten Solok 8 kasus. Sementara Pasaman Barat saat ini terjadi 7 kasus, dan Tanahdatar terjadi 3 kasus.

Dinas Kesehatan Sumbar mengimbau agar sosialiasi terhadap pencegahan penyebaran DBD dapat lebih ditingkatkan di kabupaten/kota. “Sebab saat ini terjadi peningkatan kasus DBD di Sumbar,” ujarnya.  Demam berdarah di Provinsi Sumatera Barat selama Januari 2019 mencapai angka 236 kasus dan satu orang di antaranya meninggal dunia.
“Kalau dihitung secara keseluruhan di Sumatera Barat jika dibandingkan dari bulan ke bulan, angkanya meningkat. Seperti di Desember 2018, kasus DBD ada 189 dan naik di Januari 2019 menjadi 236 kasus. Tapi jika dibandingkan pada beberapa kabupaten dan kota cukup banyak angka yang mengalami penurunan,” ungkap Merry Yuliesday.


Seperti yang terlihat di Kota Padang, pada desember 2018 lalu ada sebanyak 68 kasus dan mengalami penurunan pada Januari 2019 ke angka 56 kasus. Dari tahun ke tahun, Kota Padang memang merupakan jadi daerah yang terbesar, hal ini dikarenakan wilayah tersebut merupakan salah satu daerah yang memiliki penduduk terbilang cukup banyak di antara daerah lainnya di Sumatera Barat.
“Padang sebuah kota yang besar di Sumatera Barat, jadi perkotaan itu resiko terserang DBD lebih besar, ketimbang di pedesaan,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Ferimulyani kembali mengimbau seluruh masyarakat Kota Padang agar selalu menjaga kebersihan lingkungan, terutama lingkungan sekolah. Begitu juga halnya dengan lingkungan rumah, masjid/mushalla dan tempat-tempat lain yang berpotensi menjadi tempat berkembangbiaknya jentik nyamuk aedes aegypti.
“Temuan jentik nyamuk penyebab DBD ini merata di seluruh kelurahan di Kota Padang. Dengan demikian, hal ini harus kita sikapi bersama-sama sebelum penyakit DBD mewabah di Kota Padang”, ungkap Ferimulyani, Selasa (12/03/2019).


Lebih lanjut dijelaskan, upaya penanggulangan penyakit DBD yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Padang, Puskesmas dan Gerakan Serentak Serbu DBD tidak akan berarti apa-apa tanpa dukungan seluruh lapisan masyarakat, dengan cara menunjukkan kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan.
“Penanggulangan penyakit DBD di Kota Padang tidak berhenti pada Gerakan Serentak Serbu DBD saja, namun akan tetap berlanjut dengan penyuluhan DBD ke rumah-rumah, di Posyandu, Puskesmas, kampanye melalui poster, pamlet, stiker, dan juga melaksanakan fogging di tempat-tempat rawan DBD. Tetapi, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak membunuh jentik”, tutur Ferimulyani.


Ditambahkannya, gerakan Serentak Serbu DBD yang diikuti pelajar (serdadu jentik), Ibu-Ibu (Bunda), mahasiswa, organisasi profesi kesehatan, Saka Bakti Husada, Palang Merah Remaja melakukan pemeriksaan terhadap 41.526 rumah, 380 sekolah, dan 455 masjid/mushalla yang tersebar di seluruh kelurahan. (tisna)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY