Daya Tarik Alami Atau Buatan? Segmentasi Wisatawan Muda Lokal Ke Destinasi Wisata Berbasis Alam Di Lembah Harau

1131
Oleh : Ma’ruf, Heru Aulia Azman dan Adlan Hawari
maruf@eb.unand.ac.id
Metro Padang.com – Lembah Harau adalah salah satu anugerah keunikan alam bagi Sumatera Barat dan sudah dikenal sebagai salah satu destinasi wisata berbasis alam (Nature-based). keunikan atraksi alam ini telah dikenal luas sampai manca negara.
Perhatian dan upaya pengembangan dari pemerintah baik kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi sampai dengan pusat melalui Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sangat besar.
Terakhir, pada bulan September 2021, Mentri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiago Uno juga mengunjungi daerah ini sambil lari pagi. Lembah Harau juga menjadi salah satu prioritas untuk menjadi Geopark Nasional.
Berbagai upaya juga dilakukan oleh pemerintah untuk mengembangkan dan mempositioningkan Lembah harau menjadi destinasi ecotourism, adventure, mindfulness, berbasis keluarga dan berbasis komunitas (community-based tourism).
Sebelum terjadinya pandemic covid 19, kunjungan wisatawan local ke Lembah Harau menunjukkan kenaikan mencapai rata-rata 30% pertahun sejak 2018. Hal ini tentu merupakan kondisi yang menggembirakan.
Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa motivasi wisatawan local untuk mengunjungi Lembah Harau tidak hanya berhubungan dengan menikmati keindahan alam, tetapi juga oleh dorongan untuk mendapatkan kesenangan dan bersosialisasi serta membagi kenangan kepada lingkaran sosialnya.
Salah satu factor penarik (Pull factor) meningkatnya minat wisatawan local ke Lembah harau adalah adanya wahana baru berupa replika kampung Eropa, Korea dan Jepang. Atraksi berupa replika sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru di dunia pariwisata. Replika digunakan untuk beberapa tujuan seperti untuk mellindungi kelestarian alam.
Para ilmuan dan penggiat wisata maritim (marine tourism) di Australia, membuat replika terumbu karang untuk mengurangi laju kerusakan terumbu karang alami pada habitanya. Replika juga digunakan oleh beberapa museum di negara Eropa untuk menjaga koleksi yang  rentan untuk mengalami kerusakan karena terekspos kepada suhu ruangan, lampu dari kamera dan panas dari badan manusia.
Sementara itu, replika yang dihadirkan di Lembah Harau bertujuan untuk menawarkan pengalaman berada di luar negeri dengan icon-icon utama seperti Menara Eifel atau kincir angin. Wisatawan juga disuguhkan replika suasana kampung Korea dan Jepang yang tidak dipungkiri sedang trend dengan serbuan budaya K-Pop. Jadi apakah motivasi wisatawan local dan berusia muda yang datang ke Lembah Harau ini? Apakah didorong oleh motivasi menikmati keindahan alam atau penasaran dengan replika?
Survey pada bulan September dan Oktober 2021 terhadap wisatawan local yang berusia rata-rata dua puluh dua tahun dan kemudian diolah dengan analysis cluster menunjukkan bahwa ada dua kelompok wisatawan yang berkunjung ke Lembah Harau berdasarkan motivasinya.
Segmen pertama adalah Utilitarian dimana motivasi utama berkunjung ke Lembah Harau didorong oleh keinginan menjaga hubungan social dan mengharapkan berbagai manfaat dari kunjungannya. Segmen kedua adalah Hedonic dimana kunjungannya ke Lembah Harau didorong oleh keinginan untuk menikmati kesenangan dan mendapatkan kenangan (Memorabilia).
Survey juga menemukan bahwa walaupun replika menjadi factor yang menjadi penarik kedatangan wisatawan akan tetapi image Lembah Harau sebagai destinasi nature-based masih menjadi pull factor utama.
Lembah Harau, sebagai destinasi berbasis alam, masih menjadi daya tarik tersendiri meski aktivitas wisatanya belum banyak yang terkait dengan petualangan, alam, dan mindfulness. Hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi stakeholder pariwisata disana agar puller utama sebagai nature-based destination bisa menjadi pengisi push factor wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam. (mp)
ads
BAGIKAN

LEAVE A REPLY