Dari Analisa Data Covid-19 di Sumbar: Ada 70 Kasus Positif?

4648
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Sumatra Barat dr. Akmal Mukriady Hanif, SpPD-KKV, MARS, FINASIM.

Metro Padang.com –  Angka kematian kasus corona atau Covid-19 di Provinsi Sumatera Barat mencapai 9,6 persen per Jumat 10 April 2020. Artinya 3 pasien dari 31 pasien positif Covid-19 meninggal dunia. Hal ini kemungkinan disebabkan dua hipotesis. Pertama, enominator atau angka pembagi yang terlalu rendah. Banyak kasus yang tidak terdeteksi. Sehingga penyebarannya masih bebas dan tidak dikenali atau tidak terkendali.

Kedua, rumah sakit rujukan Covid-19 tidak sanggup atau sudah overlimit. Dan mungkin saja kedua hipotesis ini terjadi. Sehingga bisa terjadi ledakan kasus dan berujung ledakan kematian.

Jika menggunakan hipotesis pertama, dengan dasar Case Fatality Rate (CFR) dunia, maka jumlah kasus sebenarnya, 3 (angka kematian) dikali 100 per 4,3. Hasilnya ada 70 kasus positif di Sumbar.

Nah, jika kita pakai hipotesis kedua. CFR kita yang 9,7 persen tinggi sekali. Artinya rumah sakit rujukan kita tidak siap.
Coba bayangkan kalau kedua hipotesis ini berjalan secara bersamaan. Kita underdiagnose, jumlah kasus Covid-19 yang ditemukan jauh lebih rendah dari yang sebenarnya.

Hal ini sangat berbahaya, karena ini artinya masih banyak kasus positif secara aktif menularkan ke orang lain. Apalagi RS rujukan kita tidak siap atau overlimit.

Kasus total hingga saat ini dikurangi (kematian total hingga hari ini ditambah kasus sembuh) hasilnya kasus yang sementara dalam perawatan. Saat ini ada 22 orang pasien Covid-19 yang dalam perawatan.

Kalau kita pakai CFR Indonesia per 10 April 2020 yang 8,3 persen saja, tinggal dihitung yang akan meninggal, 8,3 persen dikali 22 orang.

Per 10 April 2020, di Sumatera Barat ada 106 orang PDP dan 1.324 orang ODP yang masih dalam proses pemantauan. Dengan kerja sama semua pihak, isolasi mandiri yang dilakukan secara ketat, mudah-mudahan kasus positif Covid-19 tidak banyak lagi ditemukan.

Saat ini transmisi lokal jauh lebih berbahaya dibandingkan kasus impor atau perantau yang datang dari episentrum.

Semoga Allah senantiasa melindungi Indonesia tercinta, khususnya Provinsi Sumatera Barat dan kita semua.

(Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Sumatra Barat)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY