Inilah Saka Pengantin di Jembatan KA Kali Belang Galuh Timur Tonjong Brebes

1051

Metro Padang.com -Brebes – Publikasi TMMD Reguler Kodim 0713 Brebes, terus mencoba mengangkat potensi-potensi wisata di desa sasarannya, Desa Kalinusu, Kecamatan Bumiayu, maupun juga di desa sekitarnya, yaitu Desa Galuh Timur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Di Desa Galuh Timur ini terdapat beberapa potensi wisata sejarah dan purbakala, yang belum begitu tergali dan dikenal publik. Salah satu bangunan sejarah yang coba disajikan ke medsos adalah Jembatan Kereta Api Kali Belang atau Jembatan Cinta, yaitu bangunan arsitektur peninggalan penjajah Belanda sepanjang 100 meter dengan ketinggian 50 meter dari dasar Kali Belang.

Jembatan ini memiliki 22 tiang/saka penyangga yang sangat kokoh hingga sekarang yang berbentuk seperti tangga. Dibangun mulai tahun 1890-1914, dengan dilengkapi 10 buah tempat persinggahan/pengaman orang dari besi, saat ada kereta api yang lewat.

Yang unik juga dari jembatan ini adalah adanya Saka Pengantin, yaitu tiang kembar penyangga jembatan yang berada tepat di tengah-tengah jembatan, dimana hanya berdempetan dengan jarak 25 centimeter, sehingga jembatan tersebut tidak sepenuhnya terhubung sepanjang 100 meter.

Dijelaskan Sertu Ali Mahfur, Babinsa setempat dari Koramil 08 Bumiayu, yang merupakan Ketua Pokdarwis Kampoeng Purba Galuh Timur, bangunan yang ada di tanah kelahirannya itu berbeda dengan jembatan-jembatan kereta api lainnya di Indonesia.

“Arsitektur Belanda sengaja tidak menyatukan Saka Pengantin untuk meminimalisir guncangan dari gerak maju kereta api yang lewat agar jembatan awet, dan itu terbukti karena jembatan ini masih kokoh hingga saat ini,” terangnya, Jumat (18/9/2020).

Dijelaskannya lanjut, Jembatan Kali Belang, masih digunakan hingga detik ini dan disebut jalur hulu, yaitu untuk kereta api dari arah Cirebon menuju Purwokerto.

“Pada tahun 2010, tepat di sebelahnya telah dibangun jembatan kereta api baru oleh PT. KAI, untuk kelancaran arus kereta api dari arah Purwokerto menuju Cirebon. Jembatan ini sebagai jalur hilir,” imbuhnya.

Dibawah jembatan juga dibangun jembatan kayu selebar 1 meter sekitar tahun 1927 yang disebut Jembatan Krapyak. Jembatan ini digunakan oleh para pejalan kaki warga setempat dan sekitarnya untuk berbagai aktivitas, termasuk anak-anak sekolah.

Yang juga menjadi potensi adalah karena berada di ketinggian tersebut maka jembatan ini memiliki pemandangan yang sangat bagus dari atas.

“Ini jelas akan memacu adrenalin bagi yang phobia ketinggian. Namun jangan khawatir bagi yang takut ketinggian, di sekitar jembatan ada sejumlah warung milik penduduk setempat sebagai tempat beristirahat sambil menunggu pemandangan kereta api yang lewat,” tandasnya.

Untuk diketahui, letaknya Jembatan Kali Belang ini berjarak 3 kilometer dari Stasiun KA Bumiayu ke arah Stasiun Linggapura/Prupuk, tepatnya di perbatasan antara Dukuh Karangasem dengan Dukuh Kalipucung, Desa Galuh Timur.

Sementara sebagai tambahan referensi wisata, di Galuh Timur juga terdapat Situs Purbakala yang usianya 1,8 juta tahun dan lebih tua dari situs yang ada di Sangiran, Sragen (1,5 juta tahun), yaitu manusia purba homo erectus arkaik dan berbagai flora maupun fauna yang usianya diperkirakan mencapai 2 juta tahun lebih.

Selain itu juga ada obyek wisata Candi Gagang Golok yang diperkirakan peninggalan kerajaan Pajajaran, Situs Gajah Wong, dan Makam Dawa (makam panjang).

Sedangkan jika para wisatawan masih haus potensi yang lain, dari Galuh Timur, dapat melanjutkan perjalanan kurang lebih berjarak 3 kilometer untuk menuju Eduwisata Kandang Pelangi di Dukuh Maribaya, Desa Kalinusu, Kecamatan Bumiayu.

Potensi wisata yang disajikan disini adalah padang pengembalaan ternak sapi Jabres (Jawa-Brebes) seluas 104 hektar, yang merupakan inovasi dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Brebes mulai tahun 2015 lalu, yaitu mengolah lahan tidak produktif untuk dijadikan padang penggembalaan ternak seperti di New Zealand atau di Padang Mangatas, Sumatera Barat.

Selain itu juga ada agrowisata pertanian terpadu Maribaya seluas 250 hektar, dan route offroad Maribaya yang melewati sungai dan hutan belantara. Keduanya ini sedang dikembangkan oleh Pemkab. (Aan)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY