Bursa global fluktuatif, tiga sektor ini akan menarik untuk tahun depan

1015

Metro Padang.com – JAKARTA. Prospek Bursa Asia 2019 lebih banyak dipengaruhi kondisi internal masing-masing bursa. Adapun untuk pekan depan, bursa Asia diperkirakan bakal bergerak based on sentimen interval.

“Kalau di kita, cenderung disetir seperti sentimen window dressing,” kata Kepala Riset Koneksi Kapital Indonesia Alfred Nainggolan kepada Kontan.co.id, Minggu (23/12).

Naik tertinggi, saham sektor industri dasar dan kimia terimbas sentimen positif
Terkait gejolak bursa Amerika Serikat (AS) akibat perseteruan The Fed dengan Trump, menurut Alfred, bersifat destruktif dan hanya berlangsung short term. Di sisi lain, dinamika tersebut bisa memberi sentimen positif, karena potensi The Fed untuk tidak agresif menaikkan suku bunga acuannya.

“Ini akan bagus bagi bank sentral di Asia untuk lakukan penyesuaian suku bunga acuannya. Jadi lebih banyak positifnya, tapi ini enggak bisa jadi sentimen utama Bursa Asia naik di tahun depan. Overall, balik ke kondisi masing-masing,” ungkapnya.

Pada 2019, dinamika bursa Asia relatif akan cukup besar. Beberapa bursa akan memberikan sentimen yang berbeda. Dengan begitu, prospek Bursa Asia tidak bisa diseragamkan. Sedangkan untuk bursa Indonensia sendiri di 2019 diproyeksi memiliki dinamika yang cukup besar.

“Isu pemerintahan baru atau dimulainya pemerintahan baru, tentunya menimbulkan uncertainty besar sebelum pemilu selesai. Sedangkan setelah pemilu, uncertainty akan berkurang,” ungkapnya.

Alfred mengungkapkan, di tahun depan terdapat tiga sektor yang bakal kebal terhadap guncangan bursa Asia maupun di bursa AS. Sektor-sektor tersebut, umumnya adalah sektor yang mengandalkan kinerja atau demand dari dalam negeri, yakni konstruksi, barang konsumsi dan keuangan.

“Sektor kontruksi, demand-nya enggak akan terpengaruh kondisi AS maupun bursa Asia, sehingga masih kuat. Kedua, consumer goods yang didukung belanja masyarakat, apalagi porsi belanja sosial pemerintah dan belanja partai 2019, sehingga sektor akan di-drive domestik demand,” ujarnya.

Selain itu, sektor jasa keuangan dinilai Alfred cenderung defensif, ditambah sentimen pertumbuhan ekonomi 2019 yang diproyeksi masih dinamis. “Sehingga, aktivitas keuangan meningkat. Dan kalau dilihat, dalam 1-2 bulan terakhir membaik,” tandasnya.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY