Metro Padang – Usaha tani padi dihadapkan pada resiko ketidakpastian yang cukup tinggi, antara lain kegagalan panen yang disebabkan perubahan iklim, seperti banjir, kekeringan, serangan hama dan penyakit/Organisme Penggangu Tanaman (OPT). Demikian dikatakan Kadis Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Pesisir Selatan, Nuzirwan, Minggu (22/8)
Disebutkan, untuk menghindarkan dari keadaan tersebut, pemerintah saat ini memberikan solusi terbaik berupa program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap resiko ketidakpastian tersebut.
Selanjutnya, AUTP menjamin petani mendapatkan modal kerja untuk berusaha tani dari klaim asuransi. Dari jaminan perlindungan ini, maka petani dapat membiayai pertanaman di musim berikutnya.
Dijelaskan, sasaran penyelenggaraan AUTP adalah terlindunginya petani dengan memperoleh ganti rugi jika mengalami gagal panen. Resiko yang dijamin dalam AUTP meliputi banjir, kekeringan, serangan hama dan OPT.
Hama pada tanaman padi antara lain, wereng coklat, penggerek batang, walang sangit, keong mas, tikus dan ulat grayak. Sedangkan penyakit pada tanaman padi antara lain, tungro, penyakit blas, busuk batang, kerdil rumput, dan kerdil hampa.
Serangan hama dan penyakit ini akan mengakibatkan kerusakan yang dapat mengakibatkan gagal panen sehingga petani akan mengalami kerugian.
Sedangkan Premi Asuransi Usaha Tani Padi saat ini 3 %. Berdasarkan besaran biaya input usaha tani padi sebesar Rp. 6.000.000,- per hektar per musim tanam, yaitu sebesar Rp. 180.000,- per hektar per musim tanam.
Bantuan pemerintah saat ini sebesar 80% atau Rp. 144.000,-. per hektar per musim tanam. Premi yang dibebankan.kepada petani hanya 20 % atau Rp. 36.000,- per hektar per musim tanam. “Mari ikut AUTP segera karena dari total lahan sawah kita 25.219,06 Ha, kita hanya ditargetkan 1.000 hektar jadi peserta AUTP,” pintanya. (mp)
ads
BAGIKAN

LEAVE A REPLY