Mentawai jadi Desa Berkembang dengan pendampingan Peternak Sapi Potong

1008

Metro Padang.com – Program Diseminasi “Peningkatan Status Desa Tertinggal Menjadi Desa Berkembang melalui pendampingan Peternak Sapi Potong Dengan Penanaman Rumput Gajah Unggul (Pennisetum purpureum cv. Taiwan) Melalui Teknologi Cendawan Mikoriza Arbuskula cv. Glomus manihottis di Desa Sido makmur, Kepulauan Mentawai

Pewarta : Dr. Evitayani, Prof. Lili Warly dan Prof. Syamsuardi
Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan bagian dari wilayah propinsi Sumatera Barat yang dikelilingi oleh Samudera Hindia. Meskipun daerah ini mempunyai potensi yang besar dalam bidang perkebunan, pertanian dan perikanan, namun sebagian besar kebutuhan masyarakat Mentawai masih dipasok dari wilayah lain disekitarnya. Desa Sido Makmur yang berada di Kecamatan Sipora Utara, Kepulauan Mentawai merupakan salah satu Desa Tertinggal, Terbelakang dan Termiskin (3T). Desa 3T merupakan salah satu program pemerintah dalam pengembangan wilayah perdesaan. Salah satu program Diseminasi yang dapat di lakukan pada desa Sido makmur ini adalah dengan program kesejahteraan masyarakat Desa Sido Makmur di bidang penggemukan sapi potong melalui diseminasi teknologi hijauan makanan ternak.
Data statistik terakhir dari Dinas Peternakan Kabupaten Kepualauan Mentawai bulan januari sampai dengan Agustus 2017 menunjukkan bahwa jumlah sapi potong sebanyak 212 ekor di Kecamatan Sipora Utara. Di kecamatan Sipora Utara salah satu desanya adalah Desa Sido makmur yang terdiri atas 3 dusun yaitu Dusun Sinabak, Dusun Boleleu dan Dusun Makoddiai. Jenis sapi yang dipelihara pada umumnya adalah sapi Peranakan Onggole sebanyak 18 ekor. Secara umum, pada kelompok ternak “harapan Jaya ” dan Kelompok Tani “Suka Maju”baik usaha pertanian maupun peternakan masih dilaksanakan secara tradisional, sehingga tidak mengherankan apabila hasil yang diperoleh pun relatif rendah. Ternak sapi hanya dikandangkan atau ditambatkan pada malam hari, sedangkan siang harinya dilepas untuk mencari makanan dipadang rumput atau dilahan tidur sekitar desa. Belum ada upaya untuk memelihara ternak secara intensif dengan mengandangkan dan memberikan makanan secara cukup dan teratur. Rendahnya produksi ternak selain disebabkan oleh kurangnya pengetahuan peternak dalam cara pemeliharaan ternak yang benar, juga karena kurangnya pakan baik hijauan. Dengan meningkatnya populasi ternak tentu membutuhkan hijauan yang lebih banyak dan mencukupi sepanjang tahun. Namun, penyediaan hijauan tersebut mengalami hambatan yang cukup serius. Hal ini disebabkan karena minimnya sumer daya manusia dan musim kemarau yangmenyebabkan menurunnya produksi hijauan. Oleh karena itu tujuan dari Diseminasi ini adalah memberikan masukan teknologi tepat guna bagi petani peternak dalam memanfaatkan sentuhan bioteknologi yang telah terbukti dapat membantu penyerapan unsur hara pada lahan marginal. Pemberian teknologi cendawan mikoriza arbuskula (CMA) adalah untuk meningkatkan solubilitas mineral dan memperbaiki absorbsi nutrisi tanaman (terutama fosfat) melalui perpanjangan hypa akar untuk lebih memanfaatkan pupukBerdasarkan latar belakang di atas, maka melalui program pengabdian masyarakat Diseminasi ini beberapa dosen dari berbagai bidang ilmu dan mahasiswa Fakultas Peternakan Unand , Padang , Sumbar mengembangkan peternakan tradisonal menjadi peternakan modern dengan teknologi CMA yang mampu membuat produksi pakan ternak menjadi berkualitas dan tinggi nilai gizinya. Produksi pakan yang berkualitas akan membuat produksi ternak sapi potong menjadi lebih baik.
Gambar 1 dan 2. Stek dan rumput Gajah

a.Persiapan lahan. Setelah lahan ditentukan, dilakukan pembersihan lahan dari vegetasi yang ada.Luas lahan yang digunakan adalah 50 x 50m2.Selanjutnya, dibagi menjadi 20 petak dalam 4 kelompok. Jarak masing-masing kelompok adalah 160×160 cm dan jumlah perlobang sebanyak 2 batang per lobang.
b. Pengolahan tanah.Sebelum dilakukan penanaman, tanah diberikan pupuk dasar dengan menggunakan pupuk kandang 5 ton/ha disertai pemberian pupuk SP-36 150 kg/ha selanjutnya tanah diinkubasi selama 15 hari.
c. Persiapan bahan tanam Bibit yang digunakan dalam bentuk batangyang dihasilkan dari stek.
d. Penanaman.Setelah tanah diinkubasi selama 15 hari dilakukan penanaman dengan batang lebih kurang 20 cm tingginya.Sewaktu penanaman dilaksanakan perlakuan inokulasi CMA. CMA yang dipakai adalah jenis glomus manihottis pemanfaatan bioteknologi seperti inokulasi CMA (Cendawan Mikoriza Arbuskula) dan pemberian pupuk N, P dan K. Menurut Anas dan Santoso (1992) produktivitas tanaman dapat ditingkatkan dengan penggunaan Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA).Asosiasi hifa-hifa dari CMA dengan akar mampu menyerap unsur hara tanah lebih banyak sehingga mengurangi pemakaian pupuk dan memperbaiki nutrisi tanaman.Pada saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air, maka hifa-hifa tersebut dapat menyerap air melalui pori-pori tanah.
e. Pemupukan. Pupuk kandang diberikan 4,5 kg/plot saat pengolahan tanah yang dilakukan dengan dosis 5 ton/ha dengan cara disebar,kemudian diaduk rata dengan tanah. Pupuk urea diberikan sesuai dosis perlakuan 200 kg/ha diberikan dengan cara ditanam sedalam 10 cm disisi kiri atau kanan tanaman, sesuai dengan petunjuk teknis Fedrial (2005). Pupuk SP-36 dan KCl diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah.Dosis pupuk SP-36 150 kg/ha dan dosis pupuk KCL 100 kg/ha.Pemberian pupuk SP-36 dan KCl yaitu 15 hari sebelum tanam.6. Pemeliharaanlegumedisiram tiap hari bila tidak hujan dan dijaga dari serangan pertumbuhan gulma.Pada 10 dan 30 HST dilaksanakan penyiangan dengan cara pembumbunan dan pembuangan gulma sebelum pemupukan.
f. Panen dilakukan pada umur tanaman 120 HST.Sampel legume dikeringkan dan digiling untuk digunakan dalam penelitian berikutnya. Selanjutnya di analisa kandungan proksimat, dihitung produksi segar dan kering serta pertumbuhan seperti lebar daun, tinggi tanaman dan lebar batang. Penyebaran CMA dapat kita lihat pada gambar 3. dibawah ini.

Gambar .1.Penyebaran CMA

Penduduk desa Sido makmur berjumlah 93 jiwa terdiri dari 171 kepala keluarga, Laki laki 339 jiwa dan perempuan 354 jiwa. Sementara, jika dilihat dari tingkat pendidikan lebih banyak yang tidak tamat SD yaitu sebanyak 219 orang. Keadaan topografi tanah lebih cenderung pada tanah marginal atau ultisol yang mengandung unsur hara yang sangat rendah.
Pada diseminasi teknologi ini yang menjadi mitra adalah kelompok ternak “Harapan Jaya” dan kelompok tani “Suka maju” yang terletak di Desa Sido Makmur, Kecamatan Sipora Utara.. Kelompok ternak ini sudah berdiri sejak tahun 2012 dengan keanggotaan sekarang sebanyak 15 orang.Sedangkan Kelompok tani “Suka Maju” sudah berdiri sejak 2013. Susunan kepengurusan mitra ini terdiri dari Ketua dan wakil serta bendahara dan beberapa seksi. Aktifitas dari kelompok mitra Harapan Jaya dan Suka maju selain beternak juga mengadakan berbagai macam kegiatan seperti arisan, pembentukan pupuk organik untuk menanam rumput gajah.Tetapi mitra belum tersentuh dengan teknologi bioteknologi CMA. Metode yang ditawarkan untuk mendukung realisasi program Diseminasi yang telah dilaksanakan pada peternak mitra yaitu:
a. Penyuluhan . Dalam hal ini di diskusikan tentang cara penanaman rumput Gajah sebagai sumber hijauan . Penanaman rumput Gajah di Lahan Ultisol seharusnya memakai sentuhan teknologi CMA dan pemupukan. Sehingga diharapkan produksi dan kandungan gizinya menjadi lebih baik. Hal ini akan berguna bagi peternak untuk mengembangkan kewirausahaan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
b. Pelatihan
Pelatihan yang diberikan meliputi pelatihan teknologi pengolahan pakan limbah, penyusunan/formulasi ransum, pelatihan teknologi amoniasi jerami ditambah kotoran ayam, pelatihan penanaman rumput Gajah dengan CMA dan fungsinya serta pelatihan kewirausahaan dan pelatihan motivasi. Sebelum pelatihan, dipersiapkan materi-materi tentang kegiatan pelatihan yang akan diberikan. Ditinjau dari aspek pengolahan pakan, kepada peternak diberikan pelatihan “teknologi pengolahan pakan” agar bahan limbah cukup banyak tersedia di desa dapat diolah menjadi bahan makanan ternak ruminansia Selain itu, kepada peternak juga perlu diberi pengetahuan tentang penyusunan ransum menggunakan bahan limbah tersebut sehingga diperoleh ransum yang berkualitas dan berharga murah..
Pelatihan bagaimana penanaman rumput Gajah dengan CMA yang baik serta dapat meningkat produksinya. Sebagaimana diketahui ada 9 (sembilan) hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya CMA ini, yaitu mikoriza dapat meningkatkan absorbsi hara dari tanah, mikoriza dapat meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan, tahan terhadap serangan patogen akar, mikoriza dapat memproduksi hormon dan zat pengatur tubuh, pemakaian mikoriza sebenarnya merupakan keseimbangan ekologi, mikoriza dapat menghemat pengunaan pupuk bagi tanaman yang tumbuh di tanah yang kurang subur, penggunaan mikoriza lebih menguntungkan dari pada pupuk anorganik, mikoriza juga dapat melindungi tanamana dari akses unsur tertentu yang membahayakan seperti logam berat, dan apabila tanaman terinfeksi mikoriza maka mamfaatnya akan diperoleh selama hidupnya. Dalam pelatihan kewirausahaan dan motivasi, kepada peternak juga diberikan materi tentang penyusunan rencana bisnis sederhana sehingga pada akhir kegiatan peternak diharapkan mampu membuat rencana bisnis atau pembukuan sederhana untuk usaha mereka. Pada pelatihan motivasi, kepada peternak juga diberikan simulasi-simulasi praktis berwirausaha dengan tujuan akhir untuk meningkatkan motivasi peternak agar dapt meningkatkan taraf hidup.
c. Bimbingan dan Pembinaan. Setelah mendapatkan penyuluhan dan pelatihan, peternak dibimbing± 2 bulan dan dibina agar usaha peternakan sapi potong mereka yang menerapkan teknologi amoniasi, penanaman rumpt Gajah dengan CMA dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang direncanakan.
b.Monitoring
Monitoring dilakukan secara berkala ( 1 x 2 minggu). Diskusi dan konsultasi dilakukan saat monitoring untuk mencari solusi dari berbagai kendala yang dihadapi baik dalam hal teknis peternakan maupun dalam hal kewirausahaan. Monitoring dilakukan oleh Tim pelaksana yang didampingi oleh Tim dari Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Andalas.
Kegiatan program Diseminasi ini berlangsung selama 10 bulan dari Februari hingga November 2019 dengan No. Kontrak : 137/SP2H/PPM/DPRM/2019. Pada program Diseminasi ini melibatkan Dosen 3 (tiga) orang yaitu DR.Evitayani (bidang Hijauan Pakan), Prof. Lili Warly (Bidang Ruminansia) , Prof. Syamsuardi (Biologi) serta melibatkan 3 (tiga ) orang mahasiswa S1 yaitu Govinda, Sri Jumiyanti dan Ferdi.
Dengan program Diseminasi diharapkan dapat menggerakkan/menggairahkan kembali usaha peternak sapi potong dan roda ekonomi masyarakat di desa Sido Makmur, Kecamatan Sipora Utara, kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Diharapkan hasil penelitian diseminasi ini memperoleh metode terbaik untuk menjadikan Desa sido makmur dari desa 3T menjadi desa yang berkembang dan dapat membantu Program Swasembada Daging Sapi Tahun 2024.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY