Kadis Kesehatan Merry Yuliesday : Penemuan Pasien Tuberkolosis di Sumbar Belum Maksimal

1364

2 April 2019

Metro Padang.com – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mendorong percepatan penemuan atau perkiraan jumlah pasien baru tuberkolosis, beserta penanganannya. Hingga saat ini, diperkirakan ada sekitar 22.000 orang pasien di Sumatera Barat dan baru 46 persen yang berhasil dijangkau.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Merry Yuliesday mengatakan, Sumatera Barat memiliki target 70 persen untuk penemuan jumlah pasien tuberkolosis baru sesuai dengan target pemerintah pusat untuk mengeliminasi tuberkolosis pada 2013. Menurut Marry, capaian Sumbar yakni 46 persen atau sekitar 10.120 orang, masih belum sesuai harapan.

Merry mengatakan, masih sedikitnya capaian penemuan pasien baru di Sumbar tidak terlepas dari belum maksimalnya upaya di kabupaten kota yang ada. Dari 19 kabupaten kota, pada 2018, hanya tiga wilayah yang mencapai target di atas 60 persen yakni Kota Pariaman, Kota Padang Panjang, dan Kota Bukittinggi. Sisanya berada di bawah 60 persen, bahkan ada yang di bawah 30 persen seperti Kabupaten Sijunjung, Limapuluh Kota, Kota Sawahlunto, dan Kabupaten Solok.
“Seharusnya, dari jumlah populasi (perkiraan jumlah pasien), sebanyak 70 persen itu bisa kami akses dan mereka juga bisa mengakses (penanganan) dari kami. Oleh karena itu, kami meminta agar para kader di Pusat Kesehatan Masyarakat di daerah jangan berharap pasien datang, tetapi harus menjemput bola,” kata Merry.

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat Merry Yuliesday pada peringatan Hari TBC se-Dunia dalam acara Hari Bebas Kendaraan di kawasan Jalan Chatib Sulaiman Padang, Sumatera Barat,
selain mendorong para kader, mereka juga meningkatkan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat tentang pentingnya deteksi TBC. Hal itu juga yang dilakukan pada Peringatan Hari TBC se-Dunia yang memanfaatkan kegiatan Hari Bebas Kendaraan (CFD) di kawasan Khatib Sulaiman, Minggu. Acara yang diikuti sekitar 500 dokter dari Koalisi Organisasi Profesi Penanggulangan TBC bersama organisasi profesi lain fokus pada sosialisasi langsung ke warga yang mengikuti CFD maupun siaran langsung di salah satu radio.

 

Masih banyaknya pasien TBC yang belum terjangkau juga diakibatkan oleh adanya rasa malu di masyarakat. Dokter anak di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M Djamil Padang Vini Fitriani mengatakan, salah satu tantangan dalam penanggulangan TBC adalah masih adanya stigma buruk di masyarakat terhadap penderita TBC.
“Tidak usah malu karena TBC bisa diobati. Apalagi semua orang punya risiko terkena TBC baik dari kalangan sosial ekonomi tinggi hingga rendah. Jadi, hilangkan stigma dan jangan malu. Kalau misalnya batuk-batuk dua minggu, langsung temui dokter untuk memastikan apakah terkena TBC atau tidak,” kata Veni.

Sekitar 500 dokter dari Koalisi Organisasi Profesi Penanggulangan TBC bersama organisasi profesi lain menggelar Peringatan Hari TBC se-Dunia dalam acara Hari Bebas Kendaraan di kawasan Jalan Chatib Sulaiman Padang, Sumatera Barat, Minggu (24/3/2019). Dalam kegiatan tersebut, mereka mengadakan longmarch untuk mensosialisasikan tentang TBC
Menurut Veni, para penderita TBC paling banyak berasal dari masyarakat yang tinggal di daerah padat penduduk dengan rumah berventilasi buruk dan tidak tersentuh cahaya matahari langsung. Cahaya matahari bisa membunuh kuman TBC.
“Sehingga, kalau ada salah satu orang menderita TBC, maka akan tertular. Termasuk ke anak. Jika anak terkena TBC, maka gejalanya semakin berat seperti terkena selaput otak, kesadaran menurun, hingga cacat seumur hidup,” kata Veni.

Kalau ada salah satu orang menderita TBC, maka akan tertular. Termasuk ke anak. Jika anak terkena TBC, maka gejalanya semakin berat seperti terkena selaput otak, kesadaran menurun, hingga cacat seumur hidup
Dokter Paru-Paru dari RSUP M DJamil Irvan Medison menambahkan, paru-paru menjadi pintu masuk dan keluarnya TBC. “Dari paru-paru, kemudian menyebar ke seluruh tubuh, ke semua orang mulai jantung, otak, tulang, dan lainnya. Itu kenapa semua profesi kedokteran bisa terlibat di pengobatan TBC,” kata Irvan.

Menurut Irvan, jangkauan penanganan pasien TB yang masih kurang di Sumbar membuat semua pihak harus saling bekerjasama. Dinas Kesehatan bersama kader-kadernya harus bekerja maksimal untuk menjaring masyarakat yang dicurigai menderita TB. Masyarakat juga diharapkan berperan aktif dengan tidak malu berobat.
“Masyarakat harus tahu bahwa TBC bisa disembuhkan. Mereka juga jangan malu untuk berobat sehingga penyakitnya tidak menyebar ke orang lain. Kalau tidak, maka yang tidak terjangkau akan menjadi sumber penularan baru. Akibatnya, target 2030 Indonesia bebas TB akan sulit tercapai,” kata Irvan

Sementara itu Jumlah penderita Tubercolosis atau TB di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), cukup memprihatinkan. Sedikitnya, hingga Maret 2019, tercatat 476 warga Padang positif terjangkit TB dari 4.442 orang sampel yang diperiksa Dinas Kesehatan.
Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah mengatakan, pada 2018 lalu, jumlah warga terjangkit TB berjumlah 2.358 kasus. Estimasinya, 78 persen dari kasus itu ditemukan dari pusat pelayanan kesehatan. Sedangkan 22 persen lainnya adalah penderita TB yang belum mengakses layanan kesehatan.

“Penyakit TB termasuk salah satu dari 10 penyakit penyebab kematian di dunia,” kata Mahyeldi saat memperingati Hari TB sedunia tingkat Kota Padang di lapangan PJKA Simpang Haru,
Atas kondisi itu, Mahyeldi mengimbau agar seluruh lapisan masyarakat ikut berperan aktif dalam penjaringan kasus terduga TB hingga pencegahannya. “Jika ada warga yang batuk berdahak selama dua pekan, mari ajak untuk diperiksa layanan kesehatan,” katanya.
Wali kota menegaskan, penderita TB perlu segera ditangani secara medis. Sebab, penularan TB melalui udara. Satu penderita TBC dapat menularkan penyakitnya pada sepuluh orang. Terutama yang memiliki kontak erat dengan penderita TB. (tn)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY