Pemprov Sumbar Berupaya Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

16

7 April  2019

Metro Padang.com – Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Sumatera Barat harus dengan meningkatkan Pelayanan kesehatan di daerah terpencil yang sampai saat ini dinilai masih belum optimal. Hal itu disebabkan, minimnya penempatan tenaga medis serta sulitnya akses masyarakat untuk menjangkau pusat pelayanan kesehatan hal ini dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar, dr. Hj. Merry Yuliesday belum lama pada Metro Padang.com .

Dikatakan dr. Hj. Merry Yuliesday di Sumatera Barat ada tiga daerah yang masih berstatus daerah tertinggal, hal ini berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 131/2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015–2019. Tiga daerah itu yakni Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat.
Merry Yuliesday menyebutkan, untuk meningkatkan kesehatan di Sumbar dalam pengobatan yang dibantu 5 dokter spesialis serta tenaga kesehatan setempat untuk menunjukkan kepada masyarakat, bahwa pemerintah tak hanya berpangku tangan terhadap kesehatan masyarakat, pelayanan kesehatan tak hanya didapatkan bagi masyarakat yang berada di pusat keramaian saja, namun kesehatan juga selayaknya juga diberikan kepada mereka yang jauh dari pusat pengobatan atau daerah terpencil.


“Kita dekatkan pelayanan itu ke masyarakat. Mereka diberikan pengobatan. Misi kami mendekatkan pelayanan, supaya rakyat tau, ada pemerintah, lho. Pemerintah ini kan semuanya, bukan orang provinsi aja. Pemerintahan ada, buktinya tuh dokter spesialisnya ada disana untuk membantu masyarakat menjadi sehat,”
Jumlah tenaga medis itu dinilai belum mampu menjangkau kesehatan di daerah terutama desa-desa terpencil. Hal itu memicu lambatnya penanganan masalah sehingga ketika dirujuk telah menjadi temuan kasus. Tidak hanya di tiga daerah tersebut, kurang optimalnya pelayanan kesehatan juga bisa terjadi di desa terpencil lainnya di sejumlah kabupaten di Sumbar.

Dari Data Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Sumbar tahun 2018, ada 12 puskesmas di Mentawai, 20 puskesmas di Pasaman Barat (Pasbar), dan 9 puskesmas di Solok Selatan (Solsel). Di Mentawai ditempatkan 4 dokter spesialis di Rumah Sakit Daerah Mentawai, yakni spesialis anak, bedah, obgin (bidan, red), dan penyakit dalam. Sementara di Pasaman Barat ditempatkan 7 dokter umum, 19 dokter spesialis dan 13 dokter umum. Di Solok Selatan ada 12 dokter spesialis dan 14 orang dokter umum ungkap dr. Hj. Merry Yuliesday

Kasi pelayanan Kesehatan Primer sekaligus Penanggung Jawab Pelayanan Kesehatan Daerah Terpencil (Dacil) Dinas Kesehatan Sumbar, Ns. Beniara Asmus mengatakan upaya pemerataan kesehatan untuk dacil diberikan dengan menjangkau masyarakat langsung. Lewat program Pelayanan Kesehatan Dacil, pemerintah mengirim para dokter spesialis langsung ke daerah tersebut.

Dokter melakukan pembinaan, pelayanan, dan penyuluhan langsung ke masyarakat. Para dokter spesialis itu bertugas menjangkau dan memastikan kondisi kesehatan masyarakat yang jauh dari akses kesehatan. Sehingga pencegahan dini penyakit dapat dilakukan. “Program ini sudah ada sejak 2016 lalu, yakni memberi pelayanan kesehatan ke daerah terpencil,” di ruang kerjanya Kamis (14/3). Tujuan program tersebut, jika ditemukan satu kasus dapat langsung ditangani oleh spesialis. Namun, karena keterbatasan peralatan, pasien bisa segera dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan tindakan lanjut. Ini disesuaikan dengan rumah sakit rujukan BPJS pasien. Diharapkan seluruh masyarakat memiliki kartu tersebut. Bagi masyarakat tidak mampu akan dibayarkan melalui jaminan kesehatan sakoto (JKS) yng didanai dari pemerintah provinsi dan kabupaten bagi masyarakat miskin. Meski begitu, kendala tetap ditemui di lapangan, yakni sulitnya akses ke daerah terpencil. Keterbatasan anggaran membuat program ini hanya dapat dilaksanakan 2-3 kali setahun. Sehingga pemberian layanan kesehatan bagi masyarakat daerah terpencil belum optimal.


Ditambahkan dr. Hj. Merry Yuliesday, selain Dinas Kesehatan melakukan program Pelayanan Kesahatan Dacil, upaya lainnya adalah dengan penempatan tenaga kesehatan Nusantara Sehat. Hal ini diharapkan dapat memberi layanan kesehatan bagi masyarakat yang jauh dari pusat kota. Sepanjang tahun 2016 hingga 2018, tecatat data penempatan Tim Nusantara Sehat dan Individu di Kepulauan Mentawai ada 34 orang. Pasbar 21 orang dan 11 orang di Solsel.Angka itu belum memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan untuk kawasan tersebut. Pemerintah gencar melakukan pelayanan kesehatan melalui imbauan dan penguatan tenaga kesehatan yang ada.

Sementara itu data dari Dinas Kesehatan Sumbar selama tahun 2018 terdapat 6.793 bayi usia di bawah dua tahun (baduta) bergizi buruk dan 6. 685 bayi berbadan sangat kurus. Kondisi itu juga terjadi pada bayi lima tahun (balita). Sebanyak 28. 898 balita diketahui kurang gizi, dan terdapat 19. 667 orang balita berbadan sangat kurus. Jika ditotalkan antara baduta dan balita, terdapat 35.691 bayi kurang gizi dan 26.352 bayi berbadan sangat kurus di Sumbar.

Merry mengatakan, beberapa langkah yang dilakukan agar persoalan tersebut bisa diatasi yakni merumuskan perencanaan untuk jangka pendek dan panjang. Mulai dari regulasi, pembentukan tim, keterlibatan berbagai pihak terkait termasuk pemerintah kabupaten dalam pencegahan serta meminta bantuan dana dari Pemerintah Pusat. Merry yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Pasaman Barat dan Pasaman juga membicarakan persoalan temuan dan layanan kesehatan tersebut. Sehingga pelayanan kesehatan di daerah itu ke depannya bisa lebih baik.

Untuk pencegahan bayi dengan gizi tidak mencukupi, sampai saat ini dinkes terus memberikan edukasi terutama kepada ibu hamil. Serta melakukan pemantauan status gizi melalui penimbangan massal setiap Februari, Agustus dan September disertai dengan pemberian vitamin A dan obat cacing. (tn)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

76 + = 77