asalahkan tanah si maobbuk, begini tanggapan PT,Arupadhatu adisesanti

1127

Metro Padang.com – Perusda kemakmuran mentawai melarang masyarakat dan pihak dan perusahaan lain melakukan aktivitas di lokasi simaobbuk dengan mengeluarkan surat pemberitahuan tentang prisedur pengoperasian kawasan simaobbuk.

Pelarangan itu di ketahui setelah salah satu perusahaan PT, Arupadhatu adisesanti menerimah surat pemberitahuan dari pihak perusda kemakmuran mentawai yang dikeluarkan sejak tanggal 17 juni 2019 lalu.

Ilvan selaku pengawas lapangan PT, Arupadhatu adisusanti, mengatakan bahwa, pelarangan yang di buat pihak perusda kemakmuran mentawai serta pemungutan, menurutnya tidak sesuai dengan aturan, karena kepemilikan lokasi si maobbuk belum jelas.

Sementara peraturan daerah (perda) yang mengatur pemungutan di lokasi simaobbuk belum ada seharusnya kalau perusda melarang perusahaan lain beraktivitas lain di simaobbuk tentunya sesuai dengan regulasi aturan yang jelas, ucapnya

“Kalau ada aturan dari pemerintah setempat mengharuskan membayar pihak perusahaan siap membayar, tetapi sampai saat ini belum ada dasar aturan tersebut kata Ilvan saat di temui di kantor PT , Arupadahtu adisesanti.

Di tempat terpisah kapolres mentawai, Hendri Yahya mengatakan pelarangan bagi masyarakat dan perusahaan lain yang beraktivitas di lokasi simaobbuk apa dasar perusda melakukan sementara legalitas kepemilikan tanah simaobbuk belum jelas,

Sebelumnya sudah di lakukan penyegelan lokasi karena tidak memiliki izin stockpile tetmasuk izin usaha pertambangan khusus(IUPK) namun sekarang pihak perusda berani mengklem kepemilikan lokasi dengan melarang masyarakat beraktivitas di lokasi tersebut.

Dasar apa menyatakan bahwa lokasi milik perusda kemakmuran mentawai apa sudah ada surat legalitas tanahnya”tegas hendri yahya saat di wawancarai

Selain itu negeri itu negara hukum tidak bisa sesuka hati membuat aturan sendiri tanpa ada regulasi aturan yang di keluarkan pemerintah dan penegak hukum yang berada di wilayah setempat, jangan anggab sepele, jelas hendri yahya,(i).

BAGIKAN

LEAVE A REPLY