2 Pasangan Lesbian Digrebek Satpol PP Dirumah Kos- Kosan di Kota Padang

186

Metro Padang.com  – Sat.Pal PP Kota Padang, selaku penegakan Perda, terutama menertibkan pelaku melanggar aturan dan peratuaran yang berlaku, dan maksiat serta penyimpangan perlakuan seksual seperti LGBT bahkan Kota Padang terbanyak pelakunya, sudah viral di Medsos.

Hal itu, membuat geram para pucuk pemimlin kota ini, terutama sekali Walikota Padang, Mahyeldi, sehingga setiap hari kapan saja, Sat. Pol PP akan terus melaksanakan tugas, menertibkan Perda, sehingga kota itu, aman dan tertib dari segala perbustan maksiat, terutama LGBT yang bertentangan dengan ajaran Agama Islam.

Garak cepat dan cermat selalu dilkasanakan bila mendapat informasi dan laporan dari masyarakat selalu menjadi perhatian khusus bagi kami dan ditanggapi segera persoalan yang tetjadi ditengah masyarakat.

Hal hasil, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang, mengamankan pasangan Lesbian di sebuah rumah kos-kosan yang ada di Kota Padang.

Dua pasangan Lesbian itu ditangkap Satpol PP di sebuah kos yang ada di Jalan Banjir Kanal, Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur dan di Banuaran, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.

Sebelumnya, Satpol PP Padang juga mengamankan 10 orang wanita lesbian. Penangkapan wanita lesbian ini dikarenakan, maraknya laporan terkait persoalan hubungan sejenis yang terjadi di Kota Padang.

Rata-rata diketahui, para pasangan sejenis ini banyak didominasi oleh remaja yang masih berumur belasan tahun.

Pelaksana Tugas (Plt) Satuan Polisi Pamong Praja Kota Padang, Yardison mengatakan, Satpol PP beberapa hari belakangan ini berkomitmen melakukan pemberantasan LGBT.

“Kita komitmen, bagaimana maksiat Di Kota Padang ini bisa diberantas, salah satunya adalah LGBT yang saat ini lagi Boming di Kota Padang,” kata Yardison.
Yardison mengatakan, hingga hari ini saja, sudah sebanyak 14 orang wanita yang diduga LGBT yang diamankan oleh Satpol PP.

Sebelumnya telah mengamankan 10 orang dan hari ini, Jumat 9 November 2018 didapati lagi empat orang.

“Mereka setelah di data, kemudian kita lansung mengirimkan ke Dinas Sosial. Disana mereka akan mendapatkan pembinaan,” ujar Yardison.

Salah seorang wanita berinisial E menolak jika mereka adalah LGBT. Ia beralasan, datang ke kos-kosan temannya itu hanya untuk bertamu.

“Saya tidak LGBT, hubungan kami hanya sebatas teman, tidak ada hubungan spesial diantara kami, saya datang kesana toh cuman untuk bertamu,” ujarnya. (tb/tf)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY